Nuraini Suharsono’s Site

Desember 28, 2007

Jurnal Kedewasaan 03 : Kecerdasan

Diarsipkan di bawah: Artikel, Celotehan, Curhat, My Diary, Perjalanan — ggreatpakdokter @ 1:03 am

25 oktober 2007, 15:30
Rasanya singular jika menganggap bahwa sifat pintar equal dengan kecerdasan. Jika seseorang cerdas maka absolutely pintar, namun sebaiknya untuk tidak mengatakan kepintaran merupakan kecerdasan juga. Banyak orang tua mengharapkan anaknya kelak menjadi anak yang pintar namun tak ada yang mengharapkan memiliki anak yang cerdas.
Lihatlah ketika di Indonesia akhirnya dipenuhi oleh anak2 pintar namun tidak memiliki kecerdasan emosional, kecerdasan spiritual maka lahirlah sifat2 kebinatangan.

About me

Diarsipkan di bawah: Artikel, Celotehan, Curhat, My Diary, Perjalanan — ggreatpakdokter @ 1:01 am

Nama lengkap saya Nuraini Suharsono. Orang tua saya campuran dari suku Jawa (Bapak) dan suku Dayak (Ibu). Saya lahir dan besar dalam lingkungan Borneo yang unik, bersahaja dan sejati. Unik dalam budaya dan adat istiadat. Bersahaja dalam kesederhanaan yang indah dan Sejati dalam tutur kata dan berperilaku. Begitulah kira-kira dan saya juga yakin semua prinsip di atas juga dimiliki semua suku yang ada di Indonesia. Merdeka ! :)
Pendidikan SD hingga SMU saya tempuh di Borneo, sedangkan bangku kuliah saya nikmati di Surabaya di Universitas Airlangga. Alhamdulillah saya ngambil Kedokteran Hewan, jadi saya mengerti bagaimana kehidupan satwa jinak dan liar di sekitar kita. Tidak ada yang istimewa tentang kegiatan saya yang berhubungan dengan dunia hewan, yach biasa-biasa ajalah namun setelah saya bekerja di Laboratorium Kesehatan Hewan saya menjadi lebih mengerti keunikan, kebersahajaan dan kesejatian makhluk Tuhan tersebut, sehingga dalam kesimpulan akhir saya berfikir bahwa walaupun kita dilahirkan dalam keadaan yang berbeda tapi masing -masing memiliki kelebihan dan kekurangan yang fleksibel (tidak absolut) dalam artian, kelebihan bisa menjadi kekurangan dan kekurangan bisa menjadi kelebihan.

Jurnal Kedewasaan 02 : Topeng

Diarsipkan di bawah: Artikel, Celotehan, Curhat, My Diary, Perjalanan — Tag:, , — ggreatpakdokter @ 12:58 am

20:31, 24 Oktober 2007
Terkadang orang tidak mampu menampilkan dirinya secara utuh di lingkungannya, bahkan merasa lebih baik jika tetap saja ‘terbungkus’ topeng sehingga orang2 di sekitarnya tetap memandangnya sebagai sosok yang ’sederhana’ dan relatif ‘baik2 saja’.
Terkadang di satu sisi mereka merasa aman tetap dalam ‘persembunyiannya’ karena seringkali setiap orang yang berhubungan dengannya dianggap sebagai ‘musuh’ nyata dan ‘musuh’ dalam selimut sehingga tetap dalam persembunyian adalah jalan terbaik dan sebagai keputusan yang tepat.
Entahlah, namun tidak semua orang mempunyai kapasitas yang sama hebatnya untuk ‘bertahan’ dengan menghadapi langsung permasalahan, atau sekalipun suatu saat pernah mampu ‘bertahan’ kemudian jatuh dan ‘bersembunyi’ dengan topeng akhirnya, toh serasa membuat trauma masa lalu yang kelam saja.
TIdak selamanya mereka merasa bertopeng walaupun mengenakannya, karena untuk mengekspresikan diri mereka memiliki metode lain. Cara dimana mereka tak perlu terlalu ‘lelah’ mengutarakan maksud terdalam dari hati tentang hal apapun.
Terkadang orang2 yang mengarah pada karakteristik introvert lebih leluasa hidup dalam lingkungan yang diciptakannya sendiri dimana mereka harus menjadi superior didalamnya dan segala aturan wajib diatur sendiri dengan segala kepuasan pelampiasan ide2 terpendam.
Rasanya sulit melepaskan karakter introvert dari orang2 yang senang memakai topeng, kecuali introvert belumlah tentu ‘munafik’ atau bertopeng. Karena untuk menjadi ‘munafik’ dia ‘lebih baik’ introvert untuk melegakan perasaannya sebagai orang yang selalu ingin menyembunyikan jati dirinya.
Wallahu a’lamu bish shawab.

Jurnal Kedewasaan 01:Usia yang lebih tua

Diarsipkan di bawah: Artikel, Celotehan, Curhat, My Diary, Perjalanan — ggreatpakdokter @ 12:54 am

21 okt 2007, 21:54
Besok kembali masuk kerja…sama seperti 2 tahun lalu,besok kembali koas…yach begitulah, sejak kita hidup dalam lingkungan dengan berbagai macam pemikiran, pandangan, cara kerja, dll, sehingga akan terjadi siklus yang menarik bahwa kita benar2 tidak akan mengetahui bagaimana sebenarnya peristiwa yang akan terjadi keesokan harinya.
Apakah akan kembali terulang kasus-kasus seperti yang telah lalu ? Lalu dimanakah sesungguhnya makna Minal Aidzin wal Faidzin itu ?
Sepertinya Idul Fitri tetap disikapi sebagai seremonial semata tanpa ada “rasa” bahwa Fitri didapatkan melalui sejumlah wasilah yang tidak semudah terucapkan oleh manisnya kata-kata.
Banyak orang mengatakan manisnya gula namun tak pernah sedikitpun mereka berusaha mencari gula dengan tangannya sendiri dan merasakan manisnya dengan indra mereka sendiri, kemudian berkoar-koar bahwa gula itu manis dan tak ada yang bisa merasakannya kecuali orang-orang yang ahli didalamnya. Hhh…sungguh menyebalkan ! dan ketika hal ini dibicarakan secara objektif, mereka lari dan bersembunyi pada kesenioritasan atau pada apa2 yang terlihat “tak boleh dibantah” dan kalaupun harus dibantah mereka bersembunyi pada kelemahan fisik sehingga kita merasa kasihan dan merasa lebih baik untuk tidak membicarakannya dan membiarkannya menguap begitu saja dalam waktu lama sehingga membentuk siklus setan yang akan terullang kembali suatu saat nanti. Semoga Allah menunjukkan kebenaran sebagai kebenaran dan kepalsuan sebagai kepalsuan.
Kedewasaan seperti yang saya fahami selama ini adalah tak berarti paralel dengan usia yang lebih tua, atau telah “lebih lama hidup”, telah lebih berhasil, atau telah lebih banyak berbicara tentang hal2 yang dalam tentang kehidupan. Namun kedewasaan lebih difahami sebagai buah dari memahami kehidupan dengan kejernihan hati, kebijakan hati dan kelembutan hati sehingga melahirkan kesadaran, pencerahan diri dalam memaknai hidup sebagai suatu keseimbangan makro-mikro, setelah mengalami berbagai macam sifat kehidupan. Orang yang telah memiliki kedewasaan begitu tenang dan terbuka terhadap berbagai jenis saran, kritik, cercaan, hinaan bahkan pujian sehingga semakin menambah keseimbangan dirinya. Nilai positif di satu sisi dan nilai negatif di sisi yang lain yang didapatkan dari sekitar tidak membuat goyah ketenangan dan kejernihan hati.
Hal penting dalam kedewasaan adalah niat dan semangat untuk belajar. Belajar dalam banyak hal, belajar hidup, belajar bertahan, belajar jatuh sampai belajar tentang hal2 baru.
Hal penting lain kedewasaan adalah pikiran yang selalu ter-up date dan tidak statis.
Hal penting lainnya adalah semakin merasa tidak memiliki apa2 setelah mendapatkan banyak nilai positif dari manis kedewasaannya.
Kedewasaan bukanlah kedewasaan apabila menggunakan kekuatan usianya sebagai sarana feodalistik, fanatisme dan pengakuan eksistensi diri. Kedewasaan menjadi bahan manipulasi apabila menggunakan kekuatan usia sebagai pembodohan terhadap orang2 yang dianggapnya belum memiliki kekuatan usia.
Wallahu a’lamu bish shawab.

Desember 25, 2007

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Diarsipkan di bawah: Artikel, Celotehan, Curhat, My Diary, Perjalanan — ggreatpakdokter @ 2:02 am
« Tulisan Lebih Baru

Blog pada WordPress.com.