Nuraini Suharsono’s Site

Maret 18, 2008

Kesadaran diri : begitulah sepatutnya

 

 

Mari berujar dalam tentang egoism, seberapa takaran diri menyanggupi egoism dengan harapan cemerlang bahwasanya egoism dapat ditumbangkan melalui kesadaran dan kepatuhan terhadap sesuatu yang akhirnya dianggap sebagai ego terbesar setelah sebelumya telah dikalahkan olehnya.

Dalam sejarah manusia, egoism dapat ‘dipatahkan’ melalui dua jalan besar yaitu kesadaran dan ‘intimidasi ketakutan’.

Semua manusia punya peluang dan kesempatan yang sama untuk menjadi egois, dimanapun kapanpun.

Dimanapun artinya disituasi apapun, senang, susah, sedang mendapat harta melimpah, sedang dalam posisi sulit dan sempit, dan lain-lain. Kapanpun artinya dalam semua fase kehidupan, muda, tua, dan lain-lain.

01012008007.jpg

Dalam Islam, untuk meluruhkan egoism manusia, selalu saja ada ayat yang  menanyakan balik egoism kita, seperti apakah manusia tidak memperhatikan….; maka nikmat mana lagi yang kamu ingkari….; manakah yang lebih baik jika…..; apakah manusia tidak mengetahui bahwa….dan lain-lain.

Sehingga inilah jalan terbaik untuk mendestruksi egoism, yaitu dengan membuka dialog, bertanya balik, evaluasi kembali, merenungi kembali, menjejaki ulang retas langkah. Sehingga manusia (dengan  petunjuk Allah) mengembangkan fikirannya dan muncul kesadaran dirinya serta menewaskan egonya yang salah selama ini melalui istghfar dan taubatnya, bahwasanya ada yang lebih besar diluar dirinya, ada yang tak akan mungkin kalah diluar dirinya, ada yang selalu menilai keegoaannya dan mengatakan bahwa sebaiknya kita seperti ini-seperti itu diluar dirinya.

Sehingga dalam sejarah manusia, inilah jalan besar pertama untuk menumbangkan ego manusia yaitu melalui metoda kesadaran diri.

8 Maret 2008, 22:41

Maret 17, 2008

Rapuh : kapan aku bisa mencegah jariku menulis ini ?

Saat itu ego datang menggedor pintu hati,
sedangkan didalam ruangan, aku bersama seorang tua yang tenang,
dia bilang,
jangan biarkan air mengendap di sanubarimu
jangan biarkan air itu mengembangbiakkan penyakit
sehingga air itu tak lagi bersih
biarpun kau manusia penuh cela dan keluh kesah,
tetaplah begini, seraya tangannya mengepal keras-keras,
artinya kau janganlah menyerah dan putus asa,
pikirkanlah, nelayan ulung karena ombak dan badai.
jadi, biarkan air mengalir membasahi semuanya,
pelan-pelan tapi semua kan terasa sejuknya…

namun,
jika kau jatuh tanpa berusaha keras
maka kau adalah air yang tak mampu mengalir
kau akan dihinggapi penyakit,
penyakitnya penyakit hati
sudah banyak yang begitu,
mengapa kenapa tak kau saja berusaha tidak begitu,
mengapa kau tak mau jadi sedikit dari banyak orang lemah,
jangan keroposkan hatimu dengan masa kini,
masih ada dunia lain setelah kematian manusia
Dia kan melihat semua orang, termasuk kau

namun,
jika kau jatuh tanpa berusaha keras
maka kau akan diambil oleh makhluk diluar sana
dia akan menggedor pintumu lagi jika kau
tak mau mengalir
ingatlah, air mengalir itu
ibarat hebatmu yang terus mengalir mengikuti perkembangan zaman,
sambil terus belajar mencari arti
sehingga egomu tak sempat lahir
maka kau kan disebut hebat
sedangkan hebatmu bertambah tanpa rasa bangga sombong

sudah,
aku mau pulang dulu
namaku kedewasaan, sebut saja begitu
aku akan datang jika kau ingat bahwa kau juga bisa bodoh dengan merasa pintar
aku pasti akan membantumu saat kau pikir kau selalu sendiri
ingat,
tak ada yang sendiri di dunia ini
semua pasti ditemani
kalau aku tidak ada
Dia, yang Maha Bijaksana akan menghidupkan aku lagi
dan aku akan tetap bersamamu

sudah,
tak ada yang perlu disebalkan
semua manusia pasti begitu
yang penting sederhanakan cerewetmu
bersahajakan dirimu dulu baru orang lain…….

17 Maret 2008
ketika sedang rapuh

Maret 16, 2008

dsc00404.jpg
mas hadi, me, and mas kus.
(akarena, makasar)

Desember 28, 2007

Kos Kedung Tarukan

Diarsipkan di bawah: Artikel, Celotehan, Curhat, My Diary, Perjalanan — ggreatpakdokter @ 1:08 am

17.03, 26 12 2007
Keheningan di Kedung Tarukan
Kosan sy yang kedua di KT tahun 2000-2001.
Tak banyak cerewet sy ketika memutuskan tinggal di daerah pinggir kali KT ini,padahal hingga sy saat ini jika teringat,gak habis pikir kenapa bisa betah disana. Betul juga kata pepatah cinta itu buta, karena disana rasanya senang berkumpul dengan kakak kelas di atas 6 semester. Mereka rata2 orang aktif di organisasi massa dan intra kampus sehingga suatu kebanggaan sy bisa bekerja bersama2 dan menimba pengalaman hidup. Bersama2 mereka sy aktif jg di organisasi, shalat bareng, diskusi, bersenda gurau, makan bersama-sama, ‘cangkruk’ di warung, jg gak lupa belajar serius ketika UTS dan UAS.

Jurnal Kedewasaan 06 : Ego

Diarsipkan di bawah: Artikel, Celotehan, Curhat, My Diary, Perjalanan — ggreatpakdokter @ 1:07 am

22:46, 25-11-2007
Terkadang banyak hal yang harus dipertimbangkan secara matang, namun harus bisa berbeda dengan keragu-raguan.
Terkadang banyak hal yang harus disimpulkan berdasarkan sumber yang berbeda, karena berdasarkan satu sumber saja bisa menimbulkan subjektifitas.
Terkadang orang menyimpulkan suatu masalah demi menunjukkan eksistensi keegoannya sebagai seseorang memiliki kekuatan birokratis tertentu atau sebagai seseorang karena senioritasnya walaupun ia tidak memiliki kelebihan yaitu kedewasaan berfikir. Asal lebih senior maka biarpun kekanak-kanakan tindakannya, biarpun kebijakannya terlalu junior tetap saja meminta dengan “paksa” agar keegoannya tetap eksis.
Mungkinkah ini salah satu bentuk ketakutan akan ego-ego lain yang lebih besar atau ketakutan akan terpaan orang-orang yang secara tak sengaja akan menggusur keegoannya dengan kepolosan dan objektifitas dari orang-orang tipe junior yang masih fresh dalam berfikir dan memandang dan dari orang-orang tipe senior yang tidak stagnan dalam berfikir dan memandang perubahan.
Terkadang banyak yang mengklaim dirinya adalah orang yang paling tua dan berpengalaman dalam suatu bidang pekerjaan padahal pengakuan yang ia dapat dan rasakan hanyalah keterpaksaan orang-orang disekitarnya sebagai akumulasi rasa kasihan atas perbuatan yang sebetulnya tak pantas dan juga tak perlu diucapkan secara lisan mengenai klaim tersebut. Bukankah melalui waktu, jika mereka benar-benar tua dan berpengalaman, Allah akan mendatangkan sendiri lingkungan yang berputar sinergis dengan apa-apa yang telah dirintisnya. Sehingga klaim lisan sesungguhnya tak perlu bagi mereka yang bekerja dengan hati (ketulusan).
Yach, itu tadi, bisa jadi ketakutan akan pengabaian senioritas dan kedewasaan sehingga harus “berusaha keras” mencari ke-aku-annya. Padahal senioritas & kedewasaan itu akan langsung menjadi nisbi ketika dipaksa keluar tanpa bekerjasama dengan waktu.

Jurnal Kedewasaan 05 : Idealis dan Jumud

Diarsipkan di bawah: Artikel, Celotehan, Curhat, My Diary, Perjalanan — ggreatpakdokter @ 1:06 am

22 Nov 2007 8:20
Terkadang sulit memberikan benang pemisah antara berfikir idealis dengan berfikir kaku, terkadang orang tidak bisa memberikan perbedaan yang tegas antara kedua hal tersebut, sehingga terkesan jika idealis maka berfikir kaku, jika idealis maka kakulah pandangannya tentang pemahaman hidup yang dihadapinya, jika idealis maka kakulah semua stok kelenturan analisanya.
Padahal,idealis selalu berpasangan dengan elastisitas sehingga apapun masalahnya maka idealisme dapat tampil elegan dan sempurna dengan balutan elstisitas.
Bahkan kedahsyatan tersebut dapat mempengaruhi dan membuat orang berfikir bahwa kita telah berfikir luwes namun tetap berada dalam kerangka idealisme yang benar.
Satu hal yang terlupakan dalam kombinasi ini adalah terkadang orang berfikir ditengah indahnya idealisme elastisitas yang telah berhasil diterapkan, mereka lupa bahwa masalah yang dihadapi dgn konsep tadi tidaklah bisa menyelesaikan masalah dalam waktu singkat menurut target yang telah ditetapkan, sehingga dalam hal ini dibutuhkan elastisitas di dalam tubuh konsep idealisme elastisitas itu sendiri.
Hasan al-Banna pernah mengatakan yang intinya perubahan umat tidak bisa ditentukan keberhasilannya dari umur seorang penyeru, bisa saja hitungan zaman. Sehingga keberhasilan hari ini adalah hasil dari kerja keras orang-orang terdahulu yang telah mulai entah dari mana startnya,apakah dari setahun yang lalu ? 1 abad yang lalu ? 13 abad yang lalu ?
Bukankah manisnya islam hari ini karena darah dan keringat Rasulullah 13 abad yang lalu ?
Bukankah Rasulullah tidak meminta appreciated manusia dari zaman apapun atas keberhasilannya sehingga beliau harus hidup di tiap zaman dan menerima puja-puji manusia ?
Maka cukuplah Allah saja yang Rasulullah inginkan setiap detik hidupnya.
Bukankah Rasulullah juga berfikir idealis yang elastis sehingga Umar bin Khatab mencintainya, Hindunpun mencintainya, Khalid bin Walid mencintainya, dan kitapun mencintainya.

Jurnal Kedewasaan 04 : Hujan

Diarsipkan di bawah: Artikel, Celotehan, Curhat, My Diary, Perjalanan — ggreatpakdokter @ 1:05 am

15:39 , 26 oktober 2007
Sore ini hujan semakin deras, ada perasaan aneh ketika duduk melihat hujan yang sibuk menetesi jalanan, rerumputan, pepohonan, atap rumah hingga orang2 yang terlambat meneduhi dirinya di balik rumah2.
Perasaan itu adalah adanya perasaan lega serasa ada sesuatu yang sebelumnya tak mampu keluar, terpenjara dalam hati seolah dipaksa dengan bersahaja lewat bunyi rintik2.
Pada sisi yang lain, ada perasaan sedih yang mungkin saja merupakan percikan dari masalah2 lampau yang tiba2 muncul dan menyergap di tengah kelunglaian diri. Bukankah kita tidak selalu tegar menghadapi persoalan bahkan sekecil apapun itu permasalahan ?
Ketika perasaan sedih dan gundah itu dicoba untuk dikorek, rasanya seperti gerombolan ular yang bergerak cepat di malam hari, tak tahu kemana sasarannya tapi mematikan akhirnya. Sehingga jika didefinisikan ulangpun, yang ada hanya kata sedih dan gundah saja, sama seperti gerombolan itu, hanya kata ular saja.

Jurnal Kedewasaan 03 : Kecerdasan

Diarsipkan di bawah: Artikel, Celotehan, Curhat, My Diary, Perjalanan — ggreatpakdokter @ 1:03 am

25 oktober 2007, 15:30
Rasanya singular jika menganggap bahwa sifat pintar equal dengan kecerdasan. Jika seseorang cerdas maka absolutely pintar, namun sebaiknya untuk tidak mengatakan kepintaran merupakan kecerdasan juga. Banyak orang tua mengharapkan anaknya kelak menjadi anak yang pintar namun tak ada yang mengharapkan memiliki anak yang cerdas.
Lihatlah ketika di Indonesia akhirnya dipenuhi oleh anak2 pintar namun tidak memiliki kecerdasan emosional, kecerdasan spiritual maka lahirlah sifat2 kebinatangan.

About me

Diarsipkan di bawah: Artikel, Celotehan, Curhat, My Diary, Perjalanan — ggreatpakdokter @ 1:01 am

Nama lengkap saya Nuraini Suharsono. Orang tua saya campuran dari suku Jawa (Bapak) dan suku Dayak (Ibu). Saya lahir dan besar dalam lingkungan Borneo yang unik, bersahaja dan sejati. Unik dalam budaya dan adat istiadat. Bersahaja dalam kesederhanaan yang indah dan Sejati dalam tutur kata dan berperilaku. Begitulah kira-kira dan saya juga yakin semua prinsip di atas juga dimiliki semua suku yang ada di Indonesia. Merdeka ! :)
Pendidikan SD hingga SMU saya tempuh di Borneo, sedangkan bangku kuliah saya nikmati di Surabaya di Universitas Airlangga. Alhamdulillah saya ngambil Kedokteran Hewan, jadi saya mengerti bagaimana kehidupan satwa jinak dan liar di sekitar kita. Tidak ada yang istimewa tentang kegiatan saya yang berhubungan dengan dunia hewan, yach biasa-biasa ajalah namun setelah saya bekerja di Laboratorium Kesehatan Hewan saya menjadi lebih mengerti keunikan, kebersahajaan dan kesejatian makhluk Tuhan tersebut, sehingga dalam kesimpulan akhir saya berfikir bahwa walaupun kita dilahirkan dalam keadaan yang berbeda tapi masing -masing memiliki kelebihan dan kekurangan yang fleksibel (tidak absolut) dalam artian, kelebihan bisa menjadi kekurangan dan kekurangan bisa menjadi kelebihan.

Jurnal Kedewasaan 02 : Topeng

Diarsipkan di bawah: Artikel, Celotehan, Curhat, My Diary, Perjalanan — Tag:, , — ggreatpakdokter @ 12:58 am

20:31, 24 Oktober 2007
Terkadang orang tidak mampu menampilkan dirinya secara utuh di lingkungannya, bahkan merasa lebih baik jika tetap saja ‘terbungkus’ topeng sehingga orang2 di sekitarnya tetap memandangnya sebagai sosok yang ’sederhana’ dan relatif ‘baik2 saja’.
Terkadang di satu sisi mereka merasa aman tetap dalam ‘persembunyiannya’ karena seringkali setiap orang yang berhubungan dengannya dianggap sebagai ‘musuh’ nyata dan ‘musuh’ dalam selimut sehingga tetap dalam persembunyian adalah jalan terbaik dan sebagai keputusan yang tepat.
Entahlah, namun tidak semua orang mempunyai kapasitas yang sama hebatnya untuk ‘bertahan’ dengan menghadapi langsung permasalahan, atau sekalipun suatu saat pernah mampu ‘bertahan’ kemudian jatuh dan ‘bersembunyi’ dengan topeng akhirnya, toh serasa membuat trauma masa lalu yang kelam saja.
TIdak selamanya mereka merasa bertopeng walaupun mengenakannya, karena untuk mengekspresikan diri mereka memiliki metode lain. Cara dimana mereka tak perlu terlalu ‘lelah’ mengutarakan maksud terdalam dari hati tentang hal apapun.
Terkadang orang2 yang mengarah pada karakteristik introvert lebih leluasa hidup dalam lingkungan yang diciptakannya sendiri dimana mereka harus menjadi superior didalamnya dan segala aturan wajib diatur sendiri dengan segala kepuasan pelampiasan ide2 terpendam.
Rasanya sulit melepaskan karakter introvert dari orang2 yang senang memakai topeng, kecuali introvert belumlah tentu ‘munafik’ atau bertopeng. Karena untuk menjadi ‘munafik’ dia ‘lebih baik’ introvert untuk melegakan perasaannya sebagai orang yang selalu ingin menyembunyikan jati dirinya.
Wallahu a’lamu bish shawab.

Tulisan yang Lebih Tua »

Blog pada WordPress.com.