22 Nov 2007 8:20
Terkadang sulit memberikan benang pemisah antara berfikir idealis dengan berfikir kaku, terkadang orang tidak bisa memberikan perbedaan yang tegas antara kedua hal tersebut, sehingga terkesan jika idealis maka berfikir kaku, jika idealis maka kakulah pandangannya tentang pemahaman hidup yang dihadapinya, jika idealis maka kakulah semua stok kelenturan analisanya.
Padahal,idealis selalu berpasangan dengan elastisitas sehingga apapun masalahnya maka idealisme dapat tampil elegan dan sempurna dengan balutan elstisitas.
Bahkan kedahsyatan tersebut dapat mempengaruhi dan membuat orang berfikir bahwa kita telah berfikir luwes namun tetap berada dalam kerangka idealisme yang benar.
Satu hal yang terlupakan dalam kombinasi ini adalah terkadang orang berfikir ditengah indahnya idealisme elastisitas yang telah berhasil diterapkan, mereka lupa bahwa masalah yang dihadapi dgn konsep tadi tidaklah bisa menyelesaikan masalah dalam waktu singkat menurut target yang telah ditetapkan, sehingga dalam hal ini dibutuhkan elastisitas di dalam tubuh konsep idealisme elastisitas itu sendiri.
Hasan al-Banna pernah mengatakan yang intinya perubahan umat tidak bisa ditentukan keberhasilannya dari umur seorang penyeru, bisa saja hitungan zaman. Sehingga keberhasilan hari ini adalah hasil dari kerja keras orang-orang terdahulu yang telah mulai entah dari mana startnya,apakah dari setahun yang lalu ? 1 abad yang lalu ? 13 abad yang lalu ?
Bukankah manisnya islam hari ini karena darah dan keringat Rasulullah 13 abad yang lalu ?
Bukankah Rasulullah tidak meminta appreciated manusia dari zaman apapun atas keberhasilannya sehingga beliau harus hidup di tiap zaman dan menerima puja-puji manusia ?
Maka cukuplah Allah saja yang Rasulullah inginkan setiap detik hidupnya.
Bukankah Rasulullah juga berfikir idealis yang elastis sehingga Umar bin Khatab mencintainya, Hindunpun mencintainya, Khalid bin Walid mencintainya, dan kitapun mencintainya.
Desember 28, 2007
Jurnal Kedewasaan 05 : Idealis dan Jumud
No Comments Yet »
Belum ada komentar.
RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URI Lacak Balik