
Saya ketemu dia pas surveylance AI (Avian Influenza) di Putusibau, Kabupaten Kapuas Hulu, kira-kira 20 jam hingga 2 hari perjalanan dari Kota Pontianak.
Rusa ini hidup sendiri, terpaksa terpisah dari komunitasnya yang entah berada
di belahan hutan mana. Diikat di sebatang pohon kecil sementara di sebelahnya berdiri kandang ayam berisi ribuan ekor broiler. Di Taman Pendopo Gubernur saya pernah menangani sekelompok rusa yang sulit sekali didekati dan diterapi, namun apakah mungkin kesendirian dan kesepian Rusa Putusibau ini membuatnya memberanikan diri untuk diam dan rela didekati serta dibelai ? Waktu pamit dan pulang, ia melenguh panjang (menangiskah ?) dan memandang
lama ke arah saya.
17.03, 26 12 2007
Keheningan di Kedung Tarukan
Kosan sy yang kedua di KT tahun 2000-2001.
Tak banyak cerewet sy ketika memutuskan tinggal di daerah pinggir kali KT ini,padahal hingga sy saat ini jika teringat,gak habis pikir kenapa bisa betah disana. Betul juga kata pepatah cinta itu buta, karena disana rasanya senang berkumpul dengan kakak kelas di atas 6 semester. Mereka rata2 orang aktif di organisasi massa dan intra kampus sehingga suatu kebanggaan sy bisa bekerja bersama2 dan menimba pengalaman hidup. Bersama2 mereka sy aktif jg di organisasi, shalat bareng, diskusi, bersenda gurau, makan bersama-sama, ‘cangkruk’ di warung, jg gak lupa belajar serius ketika UTS dan UAS.
22:46, 25-11-2007
Terkadang banyak hal yang harus dipertimbangkan secara matang, namun harus bisa berbeda dengan keragu-raguan.
Terkadang banyak hal yang harus disimpulkan berdasarkan sumber yang berbeda, karena berdasarkan satu sumber saja bisa menimbulkan subjektifitas.
Terkadang orang menyimpulkan suatu masalah demi menunjukkan eksistensi keegoannya sebagai seseorang memiliki kekuatan birokratis tertentu atau sebagai seseorang karena senioritasnya walaupun ia tidak memiliki kelebihan yaitu kedewasaan berfikir. Asal lebih senior maka biarpun kekanak-kanakan tindakannya, biarpun kebijakannya terlalu junior tetap saja meminta dengan “paksa” agar keegoannya tetap eksis.
Mungkinkah ini salah satu bentuk ketakutan akan ego-ego lain yang lebih besar atau ketakutan akan terpaan orang-orang yang secara tak sengaja akan menggusur keegoannya dengan kepolosan dan objektifitas dari orang-orang tipe junior yang masih fresh dalam berfikir dan memandang dan dari orang-orang tipe senior yang tidak stagnan dalam berfikir dan memandang perubahan.
Terkadang banyak yang mengklaim dirinya adalah orang yang paling tua dan berpengalaman dalam suatu bidang pekerjaan padahal pengakuan yang ia dapat dan rasakan hanyalah keterpaksaan orang-orang disekitarnya sebagai akumulasi rasa kasihan atas perbuatan yang sebetulnya tak pantas dan juga tak perlu diucapkan secara lisan mengenai klaim tersebut. Bukankah melalui waktu, jika mereka benar-benar tua dan berpengalaman, Allah akan mendatangkan sendiri lingkungan yang berputar sinergis dengan apa-apa yang telah dirintisnya. Sehingga klaim lisan sesungguhnya tak perlu bagi mereka yang bekerja dengan hati (ketulusan).
Yach, itu tadi, bisa jadi ketakutan akan pengabaian senioritas dan kedewasaan sehingga harus “berusaha keras” mencari ke-aku-annya. Padahal senioritas & kedewasaan itu akan langsung menjadi nisbi ketika dipaksa keluar tanpa bekerjasama dengan waktu.
22 Nov 2007 8:20
Terkadang sulit memberikan benang pemisah antara berfikir idealis dengan berfikir kaku, terkadang orang tidak bisa memberikan perbedaan yang tegas antara kedua hal tersebut, sehingga terkesan jika idealis maka berfikir kaku, jika idealis maka kakulah pandangannya tentang pemahaman hidup yang dihadapinya, jika idealis maka kakulah semua stok kelenturan analisanya.
Padahal,idealis selalu berpasangan dengan elastisitas sehingga apapun masalahnya maka idealisme dapat tampil elegan dan sempurna dengan balutan elstisitas.
Bahkan kedahsyatan tersebut dapat mempengaruhi dan membuat orang berfikir bahwa kita telah berfikir luwes namun tetap berada dalam kerangka idealisme yang benar.
Satu hal yang terlupakan dalam kombinasi ini adalah terkadang orang berfikir ditengah indahnya idealisme elastisitas yang telah berhasil diterapkan, mereka lupa bahwa masalah yang dihadapi dgn konsep tadi tidaklah bisa menyelesaikan masalah dalam waktu singkat menurut target yang telah ditetapkan, sehingga dalam hal ini dibutuhkan elastisitas di dalam tubuh konsep idealisme elastisitas itu sendiri.
Hasan al-Banna pernah mengatakan yang intinya perubahan umat tidak bisa ditentukan keberhasilannya dari umur seorang penyeru, bisa saja hitungan zaman. Sehingga keberhasilan hari ini adalah hasil dari kerja keras orang-orang terdahulu yang telah mulai entah dari mana startnya,apakah dari setahun yang lalu ? 1 abad yang lalu ? 13 abad yang lalu ?
Bukankah manisnya islam hari ini karena darah dan keringat Rasulullah 13 abad yang lalu ?
Bukankah Rasulullah tidak meminta appreciated manusia dari zaman apapun atas keberhasilannya sehingga beliau harus hidup di tiap zaman dan menerima puja-puji manusia ?
Maka cukuplah Allah saja yang Rasulullah inginkan setiap detik hidupnya.
Bukankah Rasulullah juga berfikir idealis yang elastis sehingga Umar bin Khatab mencintainya, Hindunpun mencintainya, Khalid bin Walid mencintainya, dan kitapun mencintainya.
15:39 , 26 oktober 2007
Sore ini hujan semakin deras, ada perasaan aneh ketika duduk melihat hujan yang sibuk menetesi jalanan, rerumputan, pepohonan, atap rumah hingga orang2 yang terlambat meneduhi dirinya di balik rumah2.
Perasaan itu adalah adanya perasaan lega serasa ada sesuatu yang sebelumnya tak mampu keluar, terpenjara dalam hati seolah dipaksa dengan bersahaja lewat bunyi rintik2.
Pada sisi yang lain, ada perasaan sedih yang mungkin saja merupakan percikan dari masalah2 lampau yang tiba2 muncul dan menyergap di tengah kelunglaian diri. Bukankah kita tidak selalu tegar menghadapi persoalan bahkan sekecil apapun itu permasalahan ?
Ketika perasaan sedih dan gundah itu dicoba untuk dikorek, rasanya seperti gerombolan ular yang bergerak cepat di malam hari, tak tahu kemana sasarannya tapi mematikan akhirnya. Sehingga jika didefinisikan ulangpun, yang ada hanya kata sedih dan gundah saja, sama seperti gerombolan itu, hanya kata ular saja.
25 oktober 2007, 15:30
Rasanya singular jika menganggap bahwa sifat pintar equal dengan kecerdasan. Jika seseorang cerdas maka absolutely pintar, namun sebaiknya untuk tidak mengatakan kepintaran merupakan kecerdasan juga. Banyak orang tua mengharapkan anaknya kelak menjadi anak yang pintar namun tak ada yang mengharapkan memiliki anak yang cerdas.
Lihatlah ketika di Indonesia akhirnya dipenuhi oleh anak2 pintar namun tidak memiliki kecerdasan emosional, kecerdasan spiritual maka lahirlah sifat2 kebinatangan.
Nama lengkap saya Nuraini Suharsono. Orang tua saya campuran dari suku Jawa (Bapak) dan suku Dayak (Ibu). Saya lahir dan besar dalam lingkungan Borneo yang unik, bersahaja dan sejati. Unik dalam budaya dan adat istiadat. Bersahaja dalam kesederhanaan yang indah dan Sejati dalam tutur kata dan berperilaku. Begitulah kira-kira dan saya juga yakin semua prinsip di atas juga dimiliki semua suku yang ada di Indonesia. Merdeka ! 
Pendidikan SD hingga SMU saya tempuh di Borneo, sedangkan bangku kuliah saya nikmati di Surabaya di Universitas Airlangga. Alhamdulillah saya ngambil Kedokteran Hewan, jadi saya mengerti bagaimana kehidupan satwa jinak dan liar di sekitar kita. Tidak ada yang istimewa tentang kegiatan saya yang berhubungan dengan dunia hewan, yach biasa-biasa ajalah namun setelah saya bekerja di Laboratorium Kesehatan Hewan saya menjadi lebih mengerti keunikan, kebersahajaan dan kesejatian makhluk Tuhan tersebut, sehingga dalam kesimpulan akhir saya berfikir bahwa walaupun kita dilahirkan dalam keadaan yang berbeda tapi masing -masing memiliki kelebihan dan kekurangan yang fleksibel (tidak absolut) dalam artian, kelebihan bisa menjadi kekurangan dan kekurangan bisa menjadi kelebihan.
20:31, 24 Oktober 2007
Terkadang orang tidak mampu menampilkan dirinya secara utuh di lingkungannya, bahkan merasa lebih baik jika tetap saja ‘terbungkus’ topeng sehingga orang2 di sekitarnya tetap memandangnya sebagai sosok yang ’sederhana’ dan relatif ‘baik2 saja’.
Terkadang di satu sisi mereka merasa aman tetap dalam ‘persembunyiannya’ karena seringkali setiap orang yang berhubungan dengannya dianggap sebagai ‘musuh’ nyata dan ‘musuh’ dalam selimut sehingga tetap dalam persembunyian adalah jalan terbaik dan sebagai keputusan yang tepat.
Entahlah, namun tidak semua orang mempunyai kapasitas yang sama hebatnya untuk ‘bertahan’ dengan menghadapi langsung permasalahan, atau sekalipun suatu saat pernah mampu ‘bertahan’ kemudian jatuh dan ‘bersembunyi’ dengan topeng akhirnya, toh serasa membuat trauma masa lalu yang kelam saja.
TIdak selamanya mereka merasa bertopeng walaupun mengenakannya, karena untuk mengekspresikan diri mereka memiliki metode lain. Cara dimana mereka tak perlu terlalu ‘lelah’ mengutarakan maksud terdalam dari hati tentang hal apapun.
Terkadang orang2 yang mengarah pada karakteristik introvert lebih leluasa hidup dalam lingkungan yang diciptakannya sendiri dimana mereka harus menjadi superior didalamnya dan segala aturan wajib diatur sendiri dengan segala kepuasan pelampiasan ide2 terpendam.
Rasanya sulit melepaskan karakter introvert dari orang2 yang senang memakai topeng, kecuali introvert belumlah tentu ‘munafik’ atau bertopeng. Karena untuk menjadi ‘munafik’ dia ‘lebih baik’ introvert untuk melegakan perasaannya sebagai orang yang selalu ingin menyembunyikan jati dirinya.
Wallahu a’lamu bish shawab.
21 okt 2007, 21:54
Besok kembali masuk kerja…sama seperti 2 tahun lalu,besok kembali koas…yach begitulah, sejak kita hidup dalam lingkungan dengan berbagai macam pemikiran, pandangan, cara kerja, dll, sehingga akan terjadi siklus yang menarik bahwa kita benar2 tidak akan mengetahui bagaimana sebenarnya peristiwa yang akan terjadi keesokan harinya.
Apakah akan kembali terulang kasus-kasus seperti yang telah lalu ? Lalu dimanakah sesungguhnya makna Minal Aidzin wal Faidzin itu ?
Sepertinya Idul Fitri tetap disikapi sebagai seremonial semata tanpa ada “rasa” bahwa Fitri didapatkan melalui sejumlah wasilah yang tidak semudah terucapkan oleh manisnya kata-kata.
Banyak orang mengatakan manisnya gula namun tak pernah sedikitpun mereka berusaha mencari gula dengan tangannya sendiri dan merasakan manisnya dengan indra mereka sendiri, kemudian berkoar-koar bahwa gula itu manis dan tak ada yang bisa merasakannya kecuali orang-orang yang ahli didalamnya. Hhh…sungguh menyebalkan ! dan ketika hal ini dibicarakan secara objektif, mereka lari dan bersembunyi pada kesenioritasan atau pada apa2 yang terlihat “tak boleh dibantah” dan kalaupun harus dibantah mereka bersembunyi pada kelemahan fisik sehingga kita merasa kasihan dan merasa lebih baik untuk tidak membicarakannya dan membiarkannya menguap begitu saja dalam waktu lama sehingga membentuk siklus setan yang akan terullang kembali suatu saat nanti. Semoga Allah menunjukkan kebenaran sebagai kebenaran dan kepalsuan sebagai kepalsuan.
Kedewasaan seperti yang saya fahami selama ini adalah tak berarti paralel dengan usia yang lebih tua, atau telah “lebih lama hidup”, telah lebih berhasil, atau telah lebih banyak berbicara tentang hal2 yang dalam tentang kehidupan. Namun kedewasaan lebih difahami sebagai buah dari memahami kehidupan dengan kejernihan hati, kebijakan hati dan kelembutan hati sehingga melahirkan kesadaran, pencerahan diri dalam memaknai hidup sebagai suatu keseimbangan makro-mikro, setelah mengalami berbagai macam sifat kehidupan. Orang yang telah memiliki kedewasaan begitu tenang dan terbuka terhadap berbagai jenis saran, kritik, cercaan, hinaan bahkan pujian sehingga semakin menambah keseimbangan dirinya. Nilai positif di satu sisi dan nilai negatif di sisi yang lain yang didapatkan dari sekitar tidak membuat goyah ketenangan dan kejernihan hati.
Hal penting dalam kedewasaan adalah niat dan semangat untuk belajar. Belajar dalam banyak hal, belajar hidup, belajar bertahan, belajar jatuh sampai belajar tentang hal2 baru.
Hal penting lain kedewasaan adalah pikiran yang selalu ter-up date dan tidak statis.
Hal penting lainnya adalah semakin merasa tidak memiliki apa2 setelah mendapatkan banyak nilai positif dari manis kedewasaannya.
Kedewasaan bukanlah kedewasaan apabila menggunakan kekuatan usianya sebagai sarana feodalistik, fanatisme dan pengakuan eksistensi diri. Kedewasaan menjadi bahan manipulasi apabila menggunakan kekuatan usia sebagai pembodohan terhadap orang2 yang dianggapnya belum memiliki kekuatan usia.
Wallahu a’lamu bish shawab.